jatim.tagarutama.com, Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional tengah berada dalam tekanan berat. Ketidakpastian ekonomi global, arus impor murah, serta melemahnya daya beli masyarakat membuat banyak pelaku usaha, terutama skala kecil dan menengah, berjuang bertahan. Di tengah situasi tersebut, rencana investasi BUMN melalui Danantara di sektor tekstil menuai kritik.
Dilansir dari BBC (28/01). Sejumlah pengamat menilai langkah untuk membuat BUMN Tekstil berpotensi mempersempit ruang usaha UMKM tekstil yang selama ini sudah terdesak.
Direktur Riset Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, menyebut kehadiran negara di sektor yang telah dipenuhi pemain swasta justru dapat menciptakan persaingan tidak seimbang.
Menurut Andri, UMKM dan pengusaha kecil tekstil saat ini menghadapi tekanan berlapis. Dari luar negeri, mereka dihantam produk impor murah akibat perang tarif dan proteksionisme global. Sementara di dalam negeri, penurunan daya beli masyarakat membuat pasar semakin menyusut.

Data menunjukkan kontribusi industri TPT terhadap PDB nasional terus menurun, dari 3,27 persen pada tahun 2000 menjadi hanya 1,45 persen pada 2022. Penurunan ini mencerminkan melemahnya basis industri, termasuk usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja.
Andri menilai investasi BUMN di sektor tekstil berisiko “mencaplok” pasar yang selama ini digarap UMKM, alih-alih menciptakan pasar baru. Dengan modal besar dan akses kebijakan, BUMN dikhawatirkan akan menguasai rantai pasok, sementara pengusaha kecil semakin tersingkir.
Ia mengingatkan bahwa kejayaan industri tekstil pada masa lalu tidak bisa dijadikan acuan kebijakan saat ini. Indonesia kini kalah bersaing dalam hal upah tenaga kerja dibandingkan Vietnam dan Bangladesh, serta masih bergantung pada impor bahan baku dari China. Kondisi tersebut membuat peluang keuntungan di sektor tekstil semakin terbatas.
Menurut Andri, pemerintah seharusnya memprioritaskan kebijakan yang memperkuat UMKM, bukan menambah tekanan persaingan. Salah satu langkah paling strategis adalah memulihkan daya beli masyarakat agar pasar domestik kembali hidup.
“Jika konsumsi rumah tangga membaik, dampaknya akan langsung dirasakan UMKM tekstil. Itu jauh lebih efektif dibandingkan negara masuk sebagai pemain baru di sektor yang sudah penuh,” ujarnya seperti dikutip dari BBC (28/01).
Ia menegaskan, keberpihakan pada UMKM dan pengusaha kecil menjadi kunci agar industri tekstil nasional tidak semakin terpuruk, sekaligus mencegah deindustrialisasi yang lebih dalam. (*)
(TU/JM)










