jatim.tagarutama.com, Kaimana – Di kampung pesisir di pedalaman Kaimana, Kampung Bofuwer, Teluk Arguni, Papua Barat, ikan gulama atau ganadi dalam sebutan lokal pernah dianggap nyaris tak bernilai. Nelayan hanya mengambil gelembungnya yang mahal, sementara tubuh ikan dibuang begitu saja ke laut. Namun di tangan mama – mama kampung Bofuwer, ikan yang terbuang itu justru menjadi sumber harapan baru bagi mama-mama kampung.
Sejak awal pelayanannya sebagai pendeta, Joyce Essuruw memang menaruh perhatian besar pada perempuan dan anak. Baginya, pemberdayaan perempuan bukan sekadar wacana, melainkan fondasi bagi masa depan keluarga.
“Jika perempuan cerdas dan sejahtera, anak pasti terjamin hidupnya,” ujarnya saat diwawancara media ini melalui sambungan telepon, Jumat (30/01/2026).
Prinsip itulah yang membawanya aktif mengikuti berbagai pelatihan dan diversifikasi keterampilan. Setiap pengetahuan baru yang ia peroleh selalu ia niatkan untuk berbagi kepada kaum perempuan.
Ketika Joyce ditugaskan melayani di pedalaman Kaimana, satu pertanyaan terus menggelayut dibenaknya, bagaimana sebenarnya kehidupan perempuan di kampung ?
Jawabannya cukup mengusik. Menurutnya, banyak perempuan memiliki keterampilan dasar, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi sumber penghasilan. Mereka hidup dari laut dan ladang, namun nilai ekonomi dari kerja keras itu belum sepenuhnya kembali ke tangan mereka.
Lantas, langkah pertamanya yaitu menyusun sebuah proposal yang memetakan potensi laut dan hutan di sekitar kampung, lalu merancang rencana pelatihan pengolahan hasil alam.
Dalam proses, pilihan jatuh pada produk olahan, bukan tanpa alasan.
“Olahan itu pasti dimakan ibu dan anak. Dampaknya langsung ke kesehatan, lalu bisa jadi penghasilan,” katanya.
Proposal itu ia bawa ke berbagai instansi, berharap ada dukungan berupa pelatihan dan peralatan.
Niat baik bukan tanpa halangan, Pendeta Joyce dan tim sempat menemui jalan buntu, hingga suatu hari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kaimana bersama Global Environment Facility (GEF) 6 datang ke kampung mereka.
Tanpa ragu, Joyce kembali menyodorkan proposal yang sama—kali ini langsung kepada manajer proyek GEF 6. Keberaniannya berbuah manis. GEF dan DKP merespons dengan dukungan penuh. Senja kaimana itu memang indah.

Dari sinilah perjalanan panjang pemberdayaan mama-mama kampung dimulai.Produk yang paling berkesan baginya adalah olahan ikan gulama. Ikan yang selama ini dibuang itu diolah menjadi abon ikan, bakso ikan, kaki naga ikan, sambal ikan, hingga kecap ikan.
“Selain tinggi gizi, produk-produk ini mulai membuka peluang ekonomi bagi perempuan kampung yang sebelumnya tak memiliki penghasilan sendiri,” tuturnya.
Namun, jalan menuju kemandirian tidak mudah. Joyce mengakui para mama masih membutuhkan pendampingan. Daya beli pasar di kota kabupaten belum cukup kuat, sehingga produksi sering bergantung pada pesanan. Kontinuitas pemasaran menjadi tantangan besar. Belum lagi soal mengubah pola pikir—meyakinkan bahwa dari ikan yang selama ini dianggap tak berharga, bisa lahir usaha dengan omzet menjanjikan.
“Perlu mental kuat dan pantang menyerah,” kata Joyce.
Ia juga menghadapi realitas lain: keberadaan dana kampung yang sering menjadi “zona aman” ketika ekonomi keluarga terdesak, sehingga semangat produksi kerap tersendat.
Meski begitu, Joyce tak surut. Ia percaya kemandirian perempuan adalah kunci. Menurutnya, Tanah Papua telah dianugerahi kelimpahan alam yang luar biasa. Laut yang kaya seharusnya menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan, bukan sekadar tempat mengambil hasil lalu selesai.
“Jangan tunggu lapar baru cari makan. Semesta sudah menyediakan semuanya,” ujarnya.
Baginya, perempuan Papua harus mampu mengelola kekayaan alam itu agar produktif dan berdaya guna bagi diri sendiri dan keluarganya.
Pendeta Joyce telah memberikan makna bahwa dari ikan yang dulu dibuang kin bernilai, kesadaran bahwa nilai tidak selalu terletak pada apa yang mahal di pasar, melainkan pada ketekunan, pengetahuan, dan keberanian untuk percaya pada potensi diri. Dan di Kaimana, kisah itu sedang ditulis bersama mama-mama kampung, Pelan tapi penuh harapan. (*)
(TU/JM)










