Lato-lato, musnahkan atau lanjutkan ?

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 8 Januari 2023 - 14:07 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lato-lato juga dinikmati berbagai kalangan dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi negara

Lato-lato juga dinikmati berbagai kalangan dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi negara

Penulis : RIZKI BABY AGUSTIN S.Psi

jatim.tagarutama.com – Beberapa bulan terakhir ini semua kalangan memang sedang diguncang mainan jadul tahun 90-an, bukan hanya di beberapa daerah saja, namun sepertinya melanda seluruh Indonesia.

Mainan sederhana yang terdiri dari dua bulatan dan disatukan oleh sebuah tali, cara memainkannya pun cukup mudah, hanya dengan mengangkat talinya lalu mengetuk-ngetukkan kedua bulatan hingga mereka saling bertemu dan menghasilkan suara yang nyaring, “tok-tok”. Harganya yang cenderung terjangkau membuat semua kalangan bisa memiliki mainan ini.

Mainan ini tidak hanya disukai oleh anak-anak, tetapi bapak-bapak, ibu-ibu, dan orang dewasa lain juga ikut bermain lato-lato ini. Suara nyaring yang dihasilkan kerap kali membuat kita terusik dan tidak nyaman, lalu bagaimana ya baiknya ? haruskah kita akhiri mainan lato-lato ini ?.

Meski banyak kalangan orang dewasa yang ikut memainkan, tidak sedikit juga beberapa orang yang mengeluhkan hal ini, merasa tidak nyaman dengan bunyi yang dihasilkan, mereka adalah para Guru di sekolah dan segelintir orang tua yang juga kurang suka dengan mainan ini.

Baca Juga :  Berkualitas Meski Terbatas Menjadikan Ayah Sukses dalam Pengasuhan

Di sekolah, di rumah, di pasar, di Mall, di kompleks, di taman, di kantor, dan dimana-mana selalu ada suara “tok-tok-tok-tok”, membuat bising, tidak nyaman, dan bahkan membuat beberapa orang tidak bisa istirahat. Apa lagi seorang ibu yang memiliki anak batita, sangat kontra dengan lato-lato, karena bayinya menjadi sulit tidur karena mendengar mainan ini.

Begitulah sekelumit cerita tentang sisi negative lato-lato, nah sekarang kita bahas sisi positifnya, memang ada positifnya ?, yuk kita intip ceritanya. Satu dekade terakhir telah banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya kecanduan gadget, dengan adanya mainan jadul si lato-lato paling tidak bisa sedikit mengalihkan anak-anak dari gadget.

Biasanya mereka bisa berjam-jam memegang gawai, menonton, main game, browsing, main aplikasi joget-joget, dengar lagu-lagu dewasa, dengan sedikit “autis”. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, menyedihkan, menjengkelkan, dan mencemaskan bagi orang tua.

Baca juga: Pahlawan Devisaku

Baca Juga :  Manajemen stress dan emosi dalam pengasuhan

Baca juga: Kesehatan Mental Keluarga Sama Pentingnya Dengan Kesehatan Fisik

Lato-lato datang membawa secercah harapan bagi para orang tua agar anaknya bisa terlepas sejenak dari gadget. Bukan hanya anak-anak tapi juga orang tua itu sendiri bisa melakukan healing dengan low budget.

Lato-lato menstimulasi kognisi seseorang untuk bisa lebih fokus dan konsentrasi, selain itu lato-lato juga bisa melatih kemampuan motorik.

Dengan situasi yang ada, mestinya para produsen mainan tradsional bisa kritis melihat kondisi pasar seperti sekarang ini dan lebih cekatan dalam memproduksi mainan-mainan tradisional lainnya, untuk bisa memalingkan anak-anak dari gadget. Karena untuk saat ini hanya lato-lato yang sedang viral, semoga kedepannya ada banyak mainan sederhana lainnya yang juga viral dan membawa efek baik bagi anak-anak dan masyarakat.

So, untuk para guru dan orang tua apakah masih melarang anak main lato-lato ? semua tergantung situasi dan kondisi masing-masing.

Semoga kita bisa mencetak anak-anak yang berakhlak, hebat dan bermartabat. (tu/ffk)

Follow WhatsApp Channel jatim.tagarutama.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati Milad ke-94, PWNA Papua Barat Gelar Seminar Remaja Keren
Yayasan As Salaam Adakan Workshop Parenting: Rahasia Komunikasi Efektif dengan Generasi Z di Era Digital
Dia Kakek Sekaligus Ayah Bagi Anak-Anakku
Anak Cerdas yang Sempat Bermimpi Jadi Dokter
Tangan-Tangan Penggenggam
Separuh Jiwaku Menyatu Bersamanya
Berkualitas Meski Terbatas Menjadikan Ayah Sukses dalam Pengasuhan
Manajemen stress dan emosi dalam pengasuhan

Berita Terkait

Kamis, 5 Juni 2025 - 10:28 WIT

Peringati Milad ke-94, PWNA Papua Barat Gelar Seminar Remaja Keren

Minggu, 3 November 2024 - 08:41 WIT

Yayasan As Salaam Adakan Workshop Parenting: Rahasia Komunikasi Efektif dengan Generasi Z di Era Digital

Kamis, 16 Februari 2023 - 09:09 WIT

Dia Kakek Sekaligus Ayah Bagi Anak-Anakku

Selasa, 31 Januari 2023 - 15:51 WIT

Anak Cerdas yang Sempat Bermimpi Jadi Dokter

Rabu, 25 Januari 2023 - 06:39 WIT

Tangan-Tangan Penggenggam

Berita Terbaru