Trump Rencanakan Penutupan USAID, Elon Musk Disebut Berperan di Baliknya

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 5 Februari 2025 - 05:39 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Elon Musk, miliarder sekaligus penasihat utama Presiden Donald Trump.

Elon Musk, miliarder sekaligus penasihat utama Presiden Donald Trump.

jatim.tagarutama.com, Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan tengah merencanakan penutupan United States Agency for International Development (USAID), lembaga yang selama ini dikenal sebagai salah satu pilar bantuan luar negeri AS untuk negara-negara miskin dan berkembang, termasuk Indonesia. Langkah ini disebut-sebut akan mengakhiri berbagai program kemanusiaan di lebih dari 120 negara serta mengurangi secara signifikan jumlah tenaga kerja dan anggaran USAID.

Menurut sumber dalam pemerintahan, USAID rencananya akan digabungkan dengan Departemen Luar Negeri AS. Keputusan ini langsung memicu kekhawatiran di berbagai pihak, terutama komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan yang selama ini bergantung pada dana bantuan dari badan tersebut.

Keputusan ini dikabarkan mendapat dorongan kuat dari Elon Musk, miliarder sekaligus penasihat utama Trump. Musk dikenal kritis terhadap USAID dan beberapa kali melontarkan tudingan bahwa badan ini “sarang kaum Marxis kiri radikal yang membenci Amerika.” Ia bahkan pernah bersumpah akan berusaha menutup lembaga ini jika mendapat kesempatan.

“USAID telah lama menjadi alat politik bagi kepentingan yang bertentangan dengan rakyat Amerika,” ujar Musk dalam sebuah pernyataan di media sosialnya. “Sudah saatnya kita menghentikan pemborosan ini.”

Musk juga menuding USAID memiliki keterkaitan dengan Central Intelligence Agency (CIA) dalam mendanai penelitian senjata biologis, termasuk pengembangan COVID-19. Namun, klaim tersebut hingga kini belum pernah terbukti dan dianggap sebagai bagian dari teori konspirasi yang beredar di kalangan sayap kanan.

Baca Juga :  Menlu RI Dorong penguatan kerja sama ekonomi dengan AS

Pengumuman ini menimbulkan gejolak di Washington. Pada Selasa (4/2/2025), seluruh pegawai USAID, baik yang berada di AS maupun di luar negeri, diberi cuti administratif. Dalam pernyataan resmi di situs web USAID, cuti tersebut akan mulai berlaku pada Jumat (7/2) tepat sebelum tengah malam.

“Terima kasih atas pengabdian Anda,” demikian pernyataan singkat yang dikeluarkan USAID.

Para pegawai yang bertugas di luar negeri diminta kembali ke AS dan mengakhiri kontrak yang dianggap tidak esensial. Sejumlah negara mitra USAID, termasuk Indonesia, kini harus mencari alternatif pendanaan untuk berbagai proyek pembangunan dan bantuan kemanusiaan yang selama ini bergantung pada dana dari lembaga tersebut.

Kabar ini langsung mendapat kecaman dari Partai Demokrat dan komunitas hak asasi manusia. Para kritikus menilai keputusan ini sebagai langkah yang berisiko besar, mengingat USAID telah berperan penting dalam berbagai program kesehatan, pendidikan, dan tanggap darurat di banyak negara miskin.

“Ini bukan hanya soal kebijakan luar negeri, tetapi soal moralitas,” ujar Senator Demokrat Elizabeth Warren. “USAID telah menyelamatkan jutaan nyawa melalui program vaksinasinya, bantuan pangan, dan proyek kemanusiaan lainnya. Menutupnya adalah langkah gegabah yang akan merugikan banyak pihak.”

Baca Juga :  Lee Jae-myung Menang Pemilu, Korea Selatan Sambut Presiden Baru di Tengah Gejolak Politik

Keputusan ini juga dinilai sebagai bagian dari narasi politik yang telah lama berkembang di kalangan konservatif garis keras dan libertarian dalam Partai Republik. Mereka berpendapat bahwa AS telah terlalu banyak menghamburkan uang untuk kepentingan negara lain, sementara masih banyak permasalahan domestik yang belum terselesaikan.

Namun, secara finansial, anggaran USAID yang mencapai lebih dari US$40 miliar per tahun sebenarnya hanyalah bagian kecil dari total pengeluaran tahunan pemerintah AS yang hampir mencapai US$7 triliun.

“USAID bukanlah masalah keuangan, ini masalah ideologi,” kata seorang analis kebijakan luar negeri di Washington. “Kelompok sayap kanan melihatnya sebagai simbol intervensi global yang mereka tolak. Dan dengan dukungan kuat dari Musk, Trump akhirnya mengambil langkah ini.”

Dengan langkah berani ini, pemerintahan Trump sekali lagi menunjukkan pendekatan “America First” yang lebih fokus pada kepentingan domestik dibandingkan peran global AS. Namun, dengan dampak yang begitu luas, dunia kini menanti bagaimana keputusan ini akan memengaruhi hubungan diplomatik AS dengan negara-negara mitra serta stabilitas berbagai program kemanusiaan di seluruh dunia. (TU.01)

Follow WhatsApp Channel jatim.tagarutama.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zohran Mamdani Raih Kemenangan Bersejarah, Jadi Wali Kota Muslim Pertama di New York City
PBB Sahkan Resolusi Pengakuan Palestina Merdeka, 10 Negara Pilih Menolak
Zohran Mamdani: Sosok Muslim Progresif di Ambang Sejarah Wali Kota New York
Lee Jae-myung Menang Pemilu, Korea Selatan Sambut Presiden Baru di Tengah Gejolak Politik
Indonesia Resmi Pindah ke Kawasan Pasifik Barat WHO, Perkuat Posisi Strategis dalam Diplomasi Kesehatan Global
China Siap Kalahkan AI Buatan Perusahaan Teknologi AS
Menlu RI Dorong penguatan kerja sama ekonomi dengan AS
Rumah Zakat Berpartisipasi dalam Pengiriman Bantuan ke Myanmar bersama Kemenlu dan BNPB

Berita Terkait

Rabu, 5 November 2025 - 07:32 WIT

Zohran Mamdani Raih Kemenangan Bersejarah, Jadi Wali Kota Muslim Pertama di New York City

Kamis, 18 September 2025 - 20:53 WIT

PBB Sahkan Resolusi Pengakuan Palestina Merdeka, 10 Negara Pilih Menolak

Kamis, 26 Juni 2025 - 13:33 WIT

Zohran Mamdani: Sosok Muslim Progresif di Ambang Sejarah Wali Kota New York

Kamis, 5 Juni 2025 - 05:49 WIT

Lee Jae-myung Menang Pemilu, Korea Selatan Sambut Presiden Baru di Tengah Gejolak Politik

Senin, 26 Mei 2025 - 06:31 WIT

Indonesia Resmi Pindah ke Kawasan Pasifik Barat WHO, Perkuat Posisi Strategis dalam Diplomasi Kesehatan Global

Berita Terbaru

Daerah

Bupati Nduga Usulkan Dua Nama Calon Wakil Bupati

Sabtu, 31 Jan 2026 - 08:00 WIT